Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan Kostiana Pentingnya Toleransi dan Nasionalisme 

Politik135 Views

BandarLampung,Sumberpintar.com– Kostiana wakil ketua DPRD Provinsi Lampung yang juga sebagai bendahara PDI Perjuangan Lampung, rutin gelar Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP-WK), di Jl. Raden Saleh Raya, Kecamatan Kedaton, Kota Bandar.Lampung, Sabtu (29/11/2025).

Narasumber PIP dan Wawasan Kebangsaan yaitu ; Kapten Armed Iwan Sudrajat Wadanramil Kedaton dan Ken Setiawan.

PIP dan Wawasan Kebangsaan kali ini dipadukan bersama kegiatan kunjungan kerja Sudin, namun kunjungan kerja Sudin sebagai DPR-RI diwakilkan Donald Haris Sihotang selaku staf ahlinya.

Kostiana menyapa warga Jl. Raden Saleh Raya yang merupakan sekitar kediamannya dengan mengadakan gelar Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) dan Wawasan Kebangsaan. Acara ini pun dihadiri Kaling, Kapolsek Kedaton, Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

PIP-WK ini merupakan agenda rutin pemerintah melalui DPRD Provinsi Lampung untuk mengajak dan mengingatkan tidak bosan-bosannya, agar dalam kehidupan sehari-hari menghayati dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, “terang Kostiana.

Kita hidup diNegara Kesatuan Republik Indonesia dengan masyarakat majemuk beraneka ragam, diikat dan disatukan kesepakatan bersama dengan Pancasila yang merupakan sumber dari segala sumber hukum, terang Kapten Armed Iwan Sudrajat.

Disamping itu Kapten Armed Iwan Sudrajat selaku narasumber ia menceritakan pernah bertugas diBali, NTT, alhamdulillah aman dan Siap ditempatkan dimana saja selaku TNI alat pengamanan negara.

NKRI kaya akan budaya, beraneka ragam suku, agama, ras dan golongan berdampingan secara damai dengan hidup toleransi, ” tutur Kapten Armed Iwan Sudrajat.

Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika serta NKRI sebagai penyatu dan kita guyub, rukun tenteram damai sentosa, jangan ada yang bisa memecah belah kita dengan bersatu, menghargai dan toleransi antar satu dengan yang lainnya, “tegas Kapten Armed Iwan Sudrajat.

Disambung narasumber kedua Ken Setiawan eks radikal. Ia menceritakan masa kelamnya, namun saat ini telah kembali ke Nasionalisme dan NKRI, ” terang Ken Setiawan.

Ia pun mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan masyarakat yang telah menerima kembali.

Dulu ia menolak dan sangat anti terhadap Pancasila. Pancasila harus saya tolak, ingkari dan tinggalkan karena saya anggap itu dulu adalah paham toghut. Alhamdulilah setelah saya keluar apa yang saya pelajari itu salah.

Saya belajar dengan guru yang salah sehingga terpapar kesana, “urai Ken Setiawan.

Ini bahayanya kalau narkoba karena pergaulan salah, tapi ketika teroris, karena berguru dengan guru agama yang salah dampaknya intoleran, radikal hingga teroris dengan merasa dirinya paling benar dan seolah-olah panitia seleksi masuk Syurga, dan yang lainnya kafir, ketika saya sudah keluar ternyata dunia sangat luas, beraneka ragam, satu sama lain bukan saling menjelekkan tapi saling melengkapi, “terang Ken Setiawan.

Miris saat ini dengan perkembangan digitalisasi anak-anak kita didunia pendidikan berdasarkan rilis Mabes Polri sebanyak 110 orang terpapar radikal.

Tujuan kita yaitu Tuhan kita sama yang memberikan rezeki namun syariatnya yang berbeda. Ketika kita sudah menganggap Bagiku agamaku bagimu agamamu dan bagiku kau adalah saudaraku kita tidak punya rasa rusuh, rasa curiga kita punya tanggung jawab yang sama ketika ada perbedaan Fastabikul khoirot dan ketika ada masalah, ada sila ke-4 musyawarah mufakat dan kuncinya di Sila Pertama.

Ken Setiawan ketika ketemu eks Napiter alumni Afganistan cukup belajar Sila Pertama Pancasila sudah bisa tersenyum.

Pelajari Sila Pertama Ketuhanan YME itu bukan sekedar sila biasa namun itu ikrar kita setia kepada Tuhan dalam Islam dengan konteks syahadat dan ikrar setia kita kepada NKRI. Nasib kita tidak hanya di tangan Alloh tapi di tangan pemerintah ada legislatif, eksekutif dan yudikatif.

Ken Setiawan kini sebagai Kepala bidang pemuda dan pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) dan BNPT Provinsi Lampung menjelaskan terkait Pancasila justru Lampung memiliki lima palsafah kearifan lokal, ; piil senggiri, nemui nyimah, nengah nyappur, Sakay sambayan, bejuluk beadek.

Ia pun menambahkan penjelasan tentang Nasionalisme, Nasionalisme adakah merasa dan menyadari adanya ancaman, tantangan, gangguan, hambatan disekitar kita.

Indonesia memiliki kesepakatan bersama yaitu Pancasila. Ketika ada orang yang ingin mengacak-acak oleh orang yang mau menghancurkan rumah tersebut kita punya tanggung jawab mengaplikasikan dan benteng Pancasila.

Saatnya kita menyadari bahwa kita harus bersama sehingga bisa selesai persoalan di sekitar kita dan bela negara bukan tanggung jawab aparat saja tetapi tanggung jawab kita semua, sesuai bidang yang kita bisa, “tutup Ken Setiawan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *