OKI, Sumberpintar.com– Jalan menuju Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, yang selama hampir satu dekade dibiarkan rusak parah bak kubangan lumpur, akhirnya mulai dibangun secara serius.
Pengaspalan dan pengecoran beton yang kini berjalan menjadi kontras tajam dengan masa lalu, ketika jalan vital tersebut berkali-kali viral namun tak pernah benar-benar ditangani.
Ruas Lebung Batang–Lebung Itam hingga Lebung Itam–Tulung Selapan selama bertahun-tahun menjadi simbol kegagalan kebijakan infrastruktur daerah. Jalan ini bukan rusak sesaat, melainkan rusak sistemik—terulang setiap tahun, terutama saat musim hujan, tanpa solusi permanen.
Dalam rentang dua periode pemerintahan sebelumnya, keluhan warga nyaris menjadi rutinitas tahunan.
Media sosial dipenuhi video kendaraan terbenam lumpur, distribusi logistik tersendat, hingga aktivitas ekonomi lumpuh.
Namun, viralitas tersebut tak pernah berbanding lurus dengan keberpihakan anggaran.
“Setiap tahun rusak, setiap tahun janji. Tapi jalannya tetap begitu,” ujar Erni, warga Tulung Selapan Ilir.
Sebagai pedagang, Erni mengaku dampak terparah justru dirasakan masyarakat kecil. Biaya transportasi membengkak, waktu tempuh tidak manusiawi, dan kerugian ekonomi tak terhitung.
“Pernah ke Palembang 12 jam. Berangkat pagi, sampai malam. Itu sudah biasa waktu jalannya rusak,” katanya.
Kisah serupa dialami Nurhaya (54), pedagang Pasar Tulung Selapan. Ia menyebut kerusakan jalan bukan hanya soal kenyamanan, tetapi menyangkut keberlangsungan hidup.
“Barang dagangan sering rusak, ongkos naik. Pernah satu tangki air minum terpaksa dibuang karena mobil terjebak lumpur,” ujarnya.
Kini, pemandangan itu mulai berubah. Jalan yang selama ini menjadi ikon ketertinggalan pesisir timur OKI mulai diperkeras dengan aspal dan beton. Waktu tempuh ke Palembang terpangkas hingga separuhnya.
“Sekarang tiga sampai empat jam saja. Kami baru merasa diperhatikan,” kata Nurhaya.
Pada 2025, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp66 miliar dari APBD Provinsi dan Kabupaten untuk memperbaiki tujuh titik ruas jalan yang menghubungkan empat kecamatan: SP Padang, Pampangan, Pangkalan Lampam, dan Tulung Selapan. Anggaran ini datang setelah pergantian kepemimpinan daerah—sebuah fakta politik yang sulit diabaikan.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan, pembangunan jalan Tulung Selapan merupakan respons atas persoalan lama yang terlalu lama dibiarkan.
“Ini bukan masalah baru. Ini keluhan lama masyarakat OKI yang harus diselesaikan, bukan diwariskan,” ujar Herman Deru saat melakukan perjalanan darat dari Palembang ke Tulung Selapan bersama Bupati OKI.
Ia menyebutkan, total Bantuan Keuangan Bersifat Khusus (BKBK) yang dikucurkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk OKI pada 2025 mencapai Rp371 miliar.
“Dengan wilayah seluas OKI dan anggaran terbatas, tanpa intervensi provinsi, ketertinggalan infrastruktur akan terus berulang,” katanya.
Bupati OKI H. Muchendi secara tersirat mengakui adanya ketimpangan pembangunan yang terjadi sebelumnya.
“Jalan ini sudah lama menjadi keluhan masyarakat. Tugas kami sekarang bukan mencari alasan, tapi memperbaiki dan memastikan jalan ini tidak lagi jadi masalah tahunan,” ujar Muchendi.
Meski belum genap satu tahun menjabat, langkah pemerintahan Muchendi mulai dibaca publik sebagai koreksi arah kebijakan. Jalan Tulung Selapan—yang selama dua periode sebelumnya menjadi catatan kelam—kini berubah menjadi simbol bahwa, persoalan lama sejatinya bisa diselesaikan jika menjadi prioritas politik.
Bagi warga, aspal dan beton di Tulung Selapan bukan sekadar pembangunan fisik.
Ia adalah penanda berakhirnya satu dekade pembiaran, sekaligus pengingat bahwa kegagalan kebijakan selalu meninggalkan jejak panjang bagi masyarakat.








