Kota Tua Bandar Lampung dengan Pencanangan Desa Wisata Budaya di Provinsi Menciptakan Peradaban Melayu untuk Mewujudkan Destinasi Wisata Budaya Dunia

Nasional93 Views

Oleh

Dr. Hasyimkan, S.Sn.,M.A.

Akademisi Universitas Lampung dan Trotus Layanaga Malaya Sriwijaya

Relief Puyang Laya dan Puyang Maya atau Raja dan Ratu di Gunung Batu Palembang Ulu Pagar Gunung Lahat Sumatera Selatan sebagai Simbol LAMA atau MALAYA.

​Melayu yang berpusat di Sumatera Selatan yang terkait erat dengan Lampung sebagai penyangganya. Ibarat dua kota suci Makkah dan Madinah serta Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa yang keduanya tak terpisahkan satu dengan lainnya, saling menghargai dan saling melengkapi.

 

Ibarat Danau Ranau yang dihuni bersama Sumatera Selatan dan Lampung dan masih banyak lagi pertauatan keduanya itulah peradaban Melayu.

 

Pada penelitian Disertasi Dr. Hasyimkan dengan judul Nilai Karakter Musik Lokananta Nagara Malaya Kerajaan Sriwijaya yaitu musik Lokananta bahasa Malaya Sumatera Selatan (Malik Alhusaini Trotus Laya Malaya Sriwijaya, 2024) juga terdapat dalam kisah Radin Jambat Warahan Lampung (Penerjemah: Hilman Hadikusuma, Hal 78) berbunyi “Pacak Bugamol Sayan” artinya “Dapat berbunyi sendiri” gabungan Bahasa Sumatera Selatan dan Lampung bahkan konsep pola ritme Lokananta //v…/v,,/v.vv/v…// sama dengan musik nyambai Lampung Barat.

 

​Lampung memiliki posisi yang sangat strategis dalam narasi besar Peradaban Melayu.

 

Dalam perspektif kebudayaan, Lampung dapat dimaknai sebagai “organ penting”, salah satu jantung yang menghidupkan peradaban Melayu di Pulau Sumatra.

 

Posisi ini bukan semata-mata berdasarkan letak geografis, melainkan juga karena kekayaan adat, sejarah, bahasa, dan warisan budaya yang menjadi penghubung antara berbagai pusat peradaban Melayu.

 

​Pada narasi simbolik tersebut, pusat kebesaran Peradaban Melayu dipahami berada di kawasan Palembang Ulu Pagar Gunung Sumatera Selatan, yang dilambangkan sebagai matahari, sumber energi, cahaya, dan kepemimpinan patrilineal

 

Sementara itu, kawasan Sumatera Barat diposisikan sebagai simbol bulan, yang merepresentasikan kebijaksanaan, keseimbangan, serta dimensi spiritual peradaban matrilineal sedangkan Lampung lebih keperadaban Kedatuan (Datu Dipuncak, Datu Dipugung, Datu Dibalau, Datu Dipemanggilan) dengan budaya parental gabungan keduanya.

 

​Pertemuan antara simbol matahari dan bulan melahirkan kekuatan peradaban yang menyatu dalam wilayah Lampung.

 

Hubungan ini dapat dianalogikan seperti perpaduan antara kain tapis Lampung dan kain songket Sumatera Selatan.

 

Keduanya memiliki karakter yang berbeda, tetapi ketika dipadukan menghasilkan keindahan, keharmonisan, dan identitas budaya Melayu yang utuh.

 

​Pada simbol kebesaran kerajaan, Sumatera Selatan dapat diibaratkan sebagai sosok yang mengenakan tanjak sebagai lambang kepemimpinan dan kewibawaan.

 

Sebaliknya, Lampung diibaratkan sebagai sosok yang mengenakan Siger, mahkota adat Lampung yang melambangkan kemuliaan, kebijaksanaan, dan kesuburan.

 

Keduanya saling melengkapi sebagai pasangan yang membangun keseimbangan dalam peradaban Melayu.

 

​Simbolisasi tersebut memiliki kemiripan dengan figur raja dan ratu yang terdapat pada relief atau representasi budaya di kawasan Pagar Gunung.

 

Raja digambarkan mengenakan mahkota bermotif matahari dan naga sebagai lambang kekuasaan, keberanian, dan pelindung peradaban.

 

Sementara itu, ratu mengenakan mahkota yang bermotif bulan sebagai simbol kelembutan, kebijaksanaan, dan harmoni.

 

​Melalui pemaknaan filosofis ini, Lampung tidak hanya dipandang sebagai daerah penyangga, tetapi sebagai jantung Peradaban Melayu yang menghubungkan berbagai pusat kebudayaan di Sumatra.

 

Revitalisasi nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui pelestarian adat, pengembangan destinasi wisata budaya, penguatan narasi sejarah, penyelenggaraan festival internasional, serta promosi warisan budaya Melayu secara terpadu.

 

Dengan demikian, Lampung berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata budaya kelas dunia yang menawarkan pengalaman sejarah, tradisi, dan filosofi Peradaban Melayu kepada masyarakat internasional.

 

Hal itu semua dapat di display dalam situs Kota Tua Teluk Betung Bandar Lampung dan daerah lainnya di provinsi Lampung seperti yang telah di canangkan oleh Gubernur Lampung dan Wali Kota Bandar Lampung tahun 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *