Kedatun Gua Laya sebagai Istana Nagara Malaya Kerajaan  Sriwijaya 

Artikel44 Views

Oleh

Dr. Hasyimkan, S.Sn.,M.A.

Akademisi Universitas Lampung dan Trotus Laya Raja Diraja Punt Hyang Sri Jayanaga dari Nagara Malaya Kerajaan Sriwijaya

​Syarat utama berdirinya sebuah istana dan ibu kota kerajaan pada umumnya mencakup unsur tata ruang, adat istiadat, serta demografi.

 

Suatu wilayah dapat diakui sebagai pusat pemerintahan kerajaan apabila memiliki bangunan utama berupa keraton/kedatun atau istana, didukung oleh permukiman penduduk, sistem pertahanan, aktivitas ekonomi, pusat kebudayaan dan religi, serta pengakuan formal melalui tinggalan sejarah, seperti prasasti maupun artefak lainnya.

 

​Berdasarkan hasil penelitian dan observasi lapangan yang dilakukan penulis, kawasan Kedatun Gua Laya diperkirakan memenuhi berbagai unsur yang disyaratkan sebagai sebuah pusat pemerintahan kerajaan, meskkipun kawasan tersebut telah lama ditinggalkan, berbagai jejak peradaban masih dapat ditemukan hingga saat ini sehingga menunjukkan indikasi adanya sebuah kompleks kerajaan pada masa lampau.

 

​Penulis perkirakan bahwa,”istilah Kedatun berasal dari kata Datu atau Daya berasal dari bahasa Malaya, yang kemudian berkembang menjadi Melayu yaitu sebutan bagi putra raja atau generasi penerus kerajaan.

 

Seiring waktu, istilah Datu tidak hanya merujuk kepada keturunan raja, tetapi juga berkembang menjadi sebutan bagi tempat tinggal keluarga kerajaan, yaitu istana atau kedatun.

 

​Pada hipotesis penulis, Raja dilambangkan sebagai Laya (ayah), sedangkan Ratu dilambangkan sebagai Maya (ibu).

 

Dari penyatuan unsur Laya, Maya, dan Daya (Datu), atau yang dipahami sebagai satu kesatuan Mandala keluarga penguasa, diperkirakan lahirlah istilah Kedatun, yang dimaknai sebagai kediaman atau istana keluarga raja beserta generasi penerusnya.

 

​Kedatun utama berada di kawasan Gua Laya, yang terletak di wilayah Palembang Ulu, Pagar Gunung, Lahat, Sumatera Selatan.

 

Kawasan ini diperkirakan merupakan istana sekaligus pusat pemerintahan Nagara Malaya, yang menurut hipotesis penulis menjadi bagian dari pusat awal Kerajaan Sriwijaya.

 

Kedatun Gua Laya diperkirakan menjadi tempat tinggal Raja Laya, Ratu Maya, beserta keluarga kerajaan sehingga berfungsi sebagai pusat kekuasaan, pemerintahan, dan kehidupan kerajaan pada masanya.

 

​Berdasarkan observasi lapangan, kawasan Kedatun Gua Laya berada di jalur aliran sungai yang diapit oleh dua air terjun. Penulis memperkirakan bahwa area di bawah salah satu air terjun tersebut merupakan lokasi kompleks Kedatun atau pusat permukiman kerajaan pada masa lampau.

 

​Di kawasan ini juga ditemukan sejumlah peninggalan yang menurut penulis memiliki potensi sebagai bagian dari kompleks kerajaan, antara lain tangga batu, dua buah gua, serta struktur batu lainnya.

 

Salah satu gua diperkirakan merupakan ruang utama atau bagian dari istana yang berada di dalam bukit, sedangkan gua lainnya diduga menjadi jalur tembus menuju kawasan Sungai Ogan yang menurut tradisi setempat dahulu dikenal sebagai Sungai Naga.

 

Berdasarkan pengamatan penulis, kemungkinan masih terdapat sisa-sisa bangunan atau struktur kerajaan di dalam gua tersebut, namun, hingga saat ini bagian dalam gua belum diteliti, karena akses menuju ruang tersebut belum dibuka.

 

​Pada bagian depan kawasan gua terdapat susunan batu yang membentuk struktur menyerupai dinding dengan tinggi diperkirakan sekitar empat meter.

 

Penulis diperkirakan struktur tersebut merupakan bagian dari pintu gerbang utama Kedatun atau istana.

 

Di bagian bawah air terjun yang menyatu dengan kawasan tersebut juga ditemukan batu berelief yang menurut penulis memperlihatkan aksara Lamada huruf x yang dalam interpretasi penulis dianggap sebagai lambang huruf awal yang mengandung makna filosofis tertentu, disertai relief sepasang telapak kaki dan motif lainnya yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

 

​Sekitar dua kilometer di sebelah timur Kedatun Gua Laya, di kawasan yang dikenal sebagai Talang Sejemput, terdapat sebuah arca batu berbentuk sosok laki-laki yang menurut penulis menggambarkan seorang raja dengan atribut kebesaran menyerupai tokoh dalam kisah Mahabharata.

 

Arca tersebut ditemukan dalam kondisi tanpa kepala. Sementara itu, sekitar dua kilometer di sebelah barat kawasan Kedatun terdapat sebuah makam dengan nisan berukir relief matahari, naga, dan daun jati yang oleh masyarakat setempat sangat dipercaya sebagai makam seorang raja.

 

Kedatun Gua Laya sepertinya terdapat sisa sisa penghancuran dan penyerangan oleh Dapunta Hyang (salah satu Datu atau putra Raja yang datang dari luar yang sudah campur juga dengan peradaban dan keyakinan luar Malaya Sriwijaya) kisah penyerangan terdapat dalam prasasti Kedukan Bukit tahun 682 Masehi.

 

​Menurut hasil penelitian dan observasi yang telah dilakukan, keseluruhan tinggalan arkeologis, kondisi geografis, pola permukiman, serta unsur-unsur budaya di kawasan tersebut dinilai memiliki karakteristik yang sesuai dengan sebuah kompleks istana dan pusat pemerintahan kerajaan.

 

​Oleh karena itu, penulis berkesimpulan bahwa,”Kedatun Gua Laya diperkirakan merupakan lokasi Istana Nagara Malaya Kerajaan Sriwijaya.

 

Kesimpulan ini masih bersifat hipotesis penelitian yang didasarkan pada hasil observasi lapangan dan kajian awal.

 

Hipotesis tersebut, akan dipublikasikan secara lebih lengkap dalam bentuk buku, agar dapat dikaji, diverifikasi, serta diuji secara terbuka oleh masyarakat maupun kalangan akademisi melalui penelitian lanjutan sesuai dengan kaidah ilmiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *