Abdiyanto Tinggalkan PDIP, Merapat ke PSI: Manuver Politik atau Sinyal Pergeseran Kekuatan di OKI

Politik237 Views

OKI, Sumberpintar.com Peta politik Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan,kembali bergejolak. Abdiyanto, tokoh politik senior yang lama bernaung di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), resmi berpindah haluan ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Langkah ini tak sekadar perpindahan partai, melainkan manuver politik yang sarat makna dan sinyal perubahan arah kekuatan politik lokal.

 

Abdiyanto bukan figur sembarangan. Ia pernah menduduki posisi strategis sebagai Ketua DPC PDIP OKI dan Ketua DPRD OKI periode 2019–2024. Selama berada di pucuk pimpinan legislatif, ia dikenal sebagai salah satu aktor dominan dalam dinamika kebijakan dan arah politik daerah.

 

Namanya kerap muncul dalam pembahasan isu-isu krusial, mulai dari penganggaran, pembangunan, hingga tarik-menarik kepentingan politik di tubuh DPRD. Posisi tersebut menjadikannya salah satu wajah PDIP di OKI selama bertahun-tahun.

 

Namun, dinamika politik tampaknya tak selalu linier. Abdiyanto dua kali terlibat langsung dalam kontestasi Pilkada OKI—maju sebagai calon bupati pada 2018 dan calon wakil bupati pada 2024—keduanya diusung PDIP.

 

Meski belum berbuah kemenangan, keterlibatan berulang dalam kontestasi tersebut mengukuhkan ambisinya sebagai pemain utama dalam perebutan kekuasaan daerah.

 

Kepindahan Abdiyanto ke PSI menguat setelah namanya tercatat dalam struktur kepengurusan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Sumatera Selatan.

 

Struktur ini dipimpin Heri Amalindo, mantan Bupati PALI, dan dihuni sejumlah eks legislator, menandakan upaya PSI mengonsolidasikan kekuatan politik berpengalaman menjelang pertarungan politik ke depan.

 

Peralihan dari PDIP—partai mapan dengan basis massa kuat—ke PSI yang dikenal sebagai partai muda dengan narasi perubahan, memunculkan beragam tafsir.

 

Di satu sisi, langkah ini dibaca sebagai upaya adaptasi dan reposisi politik. Di sisi lain, tak sedikit yang menilai sebagai refleksi kekecewaan atas dinamika internal dan hasil kontestasi politik sebelumnya.

 

PSI sendiri kini berada dalam sorotan nasional setelah dipimpin Kaesang Pangarep, putra Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Kepemimpinan tersebut dinilai memberi magnet politik baru, termasuk bagi para tokoh daerah yang tengah mencari ruang aktualisasi dan kendaraan politik alternatif.

 

Ketua DPC PDIP OKI, Febriansyah Wardana, ST, yang juga Wakil Ketua I DPRD OKI, membenarkan kabar kepindahan Abdiyanto, meski menegaskan proses internal belum tuntas.

 

“Iya, informasinya pindah partai. Tapi sampai saat ini belum ada konfirmasi langsung ke partai dan belum mengembalikan kartu tanda anggota (KTA),” ujarnya, Sabtu (24/1/2026).

 

Hingga berita ini diturunkan, Abdiyanto memilih bungkam. Upaya konfirmasi belum mendapat respons, meninggalkan ruang spekulasi atas motif dan agenda politik di balik langkah tersebut.

 

Perpindahan Abdiyanto menegaskan satu hal: politik OKI sedang bergerak. Pergeseran elite dari partai lama ke partai baru berpotensi mengubah konstelasi kekuatan, sekaligus menjadi ujian bagi PDIP dalam menjaga soliditas kader serta bagi PSI dalam mengonversi figur senior menjadi daya ungkit elektoral.

 

Apakah langkah Abdiyanto akan menjadi awal kebangkitan PSI di OKI, atau sekadar manuver individual di tengah stagnasi politik daerah, waktu yang akan menjawab. Yang jelas, dinamika ini menjadi sinyal bahwa pertarungan politik OKI masih jauh dari kata usai.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *