Buru Hotspot Tersembunyi di Balik Bara, Tim Alfa terjun Bebas Ke Wilayah Taman Nasional Way Kambas

Lampung14 Views

Sumberpintar.com Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, memasuki tahap baru.

 

Tim Alfa dari Mabes TNI diterjunkan langsung ke kawasan yang sulit dijangkau untuk memburu titik panas yang masih berpotensi memicu kebakaran kembali.

 

Sebanyak 40 personel penerjun payung dikerahkan ke kawasan TNWK menggunakan pesawat Hercules,  Selasa (25/08/2026).

 

Selain itu, 15 personel lainnya diturunkan dari helikopter menggunakan tali untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat.

 

Sebelum pengerahan personel, tim melakukan pengamatan menggunakan drone termal untuk memetakan lokasi yang masih menunjukkan anomali suhu.

 

Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan, Tim Alfa diterjunkan berdasarkan instruksi Presiden Prabowo Subianto dan Panglima TNI.

 

“Tadi sudah kita adakan surveillance dulu, pengamatan menggunakan termal, di mana kira-kira titik-titik api yang masih mungkin menjadi bara dan menimbulkan kebakaran,” kata Kristomei saat ditemui di TNWK, Selasa (25/08/2026).

 

Setelah lokasi terpetakan, Tim Alfa diterjunkan ke medan yang sulit dijangkau untuk mempercepat pemadaman.

 

“Kemudian tadi kita terjunkan Tim Alpha, sesuai dengan instruksi dari Bapak Presiden dan Panglima TNI, mereka kita terjunkan di tempat-tempat yang susah dijangkau, di tempat-tempat yang masih memungkinkan hotspot itu ada, sehingga bisa lebih mempercepat proses pemadaman api,” ujarnya.

 

Drone Termal Buru Titik Panas

 

Kristomei menjelaskan, pemantauan melalui drone termal diperlukan untuk mendeteksi titik dengan suhu yang masih lebih tinggi dibandingkan kondisi tanah di sekitarnya.

 

Meski kobaran api tidak selalu terlihat dari permukaan, anomali suhu tersebut menjadi indikasi yang harus diwaspadai karena dapat berkembang menjadi bara dan kembali memicu kebakaran.

 

“Masih ada titik-titik yang memungkinkan karena suhunya berbeda dengan suhu tanah sebenarnya, dia masih kuning atau merah. Nah itu yang harus kita waspadai,” katanya.

 

Setelah titik panas ditemukan, personel Tim Alfa bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman.

 

Selain personel darat, dukungan water bombing dan drone penyemprot juga disiapkan untuk menjangkau kawasan yang sulit didatangi petugas.

 

“Sore ini juga kita datangkan drone semprot dengan kapasitas 16 liter, 30 liter, dan 100 liter, sehingga bisa bolak-balik ngisi, diterbangkan ke tempat-tempat yang memang susah dijangkau dengan jalan kaki,” ujar Kristomei.

 

Kejar Bara Sebelum Jadi Api Lagi

 

Strategi pemadaman kini tidak hanya mengejar kobaran api yang terlihat. Tim gabungan juga berupaya menurunkan suhu tanah agar bara yang tersisa tidak kembali berkembang menjadi kebakaran.

 

Kristomei mengatakan, water bombing dan drone penyemprot akan diarahkan ke lokasi yang terdeteksi masih memiliki suhu tinggi.

 

“Dengan adanya water bombing, dengan adanya pelibatan drone semprot nanti, itu diharapkan bisa mengademkan suhu tanah, juga bisa mencegah hotspot tadi menjadi bara api lagi,” katanya.

 

Ia berharap langkah tersebut dapat menghentikan munculnya titik panas baru di kawasan TNWK.

 

“Harapannya jangan ada lagi tambahan-tambahan atau timbul lagi hotspot atau titik-titik api baru,” ujarnya.

 

Karhutla Capai Ratusan Hektare

 

Berdasarkan data yang disampaikan Kristomei, kebakaran pada 21-22 Agustus 2026 berdampak sekitar 673 hektare di Desa Braja Harjosari.

 

Kemudian pada 23-24 Agustus, sekitar 123 hektare terdampak di wilayah Braja Kencana dan Braja Luhur. Kebakaran juga terjadi di Rantau Jaya dengan luas terdampak sekitar 6,4 hektare.

 

Kristomei menyebut kawasan yang terbakar didominasi savana dan alang-alang.

 

“Jadi luasan sekitar 600 hektar itu adalah alang-alang itu, Pak. Jadi savana, savana alang-alang,” katanya.

 

Penanganan karhutla TNWK dilakukan secara terpadu untuk melindungi kawasan konservasi sekaligus mencegah api mengancam habitat satwa dilindungi, termasuk gajah dan badak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *