Lebih dari Saudara Sekandung: Ketika Sampah dan Lalat Menjadi Metafora di Ruang Publik

Opini34 Views

Oleh  Trisno Okonisator

Wartawan dan PemerhatiKebijakan Publik

 

Sumberpintar.com Ada kalimat yang sederhana, tetapi ketika dilempar ke ruang publik, ia dapat berubah menjadi pertanyaan panjang.

 

“Dia bahagia, saya juga bahagia. Meskipun dia bukan saudara kandung, namun lebih dari saudara sekandung.

 

Kalimat itu mungkin bagi sebagian orang hanyalah ungkapan kedekatan. Tidak lebih.

 

Tetapi ruang publik memiliki hukum sosialnya sendiri. Ketika sesuatu dipertontonkan berulang kali melalui foto, video, caption, maupun media sosial, publik tidak lagi hanya menjadi penonton. Publik mulai bertanya.

 

Bukan karena publik berhak mengatur kehidupan pribadi seseorang.

 

Melainkan karena sesuatu yang sengaja dibawa ke ruang terbuka pada akhirnya berhadapan dengan mata dan tafsir masyarakat.

 

Di sinilah metafora sampah dan lalat menjadi menarik.

 

Sampah adalah sesuatu yang berada di satu tempat, sementara lalat datang karena tertarik kepadanya.

 

Namun metafora tetaplah metafora.

 

Ia tidak boleh digunakan untuk menetapkan bahwa seseorang adalah “sampah” atau seseorang lainnya adalah “lalat”.

 

Manusia bukan objek yang boleh direndahkan hanya karena kedekatan, pilihan hidup, atau penampilannya di media sosial.

 

Yang patut dipertanyakan justru adalah mengapa pola kedekatan tersebut terus-menerus hadir di ruang publik dan kemudian dikaitkan dengan identitas seseorang yang memiliki hubungan dengan sebuah lembaga pendidikan.

 

Ketika Kedekatan Menjadi Tontonan

 

Media sosial telah mengubah batas antara ruang private drngan ruang publik.

 

Dulu, kedekatan dua orang mungkin hanya diketahui keluarga dan sahabat.

 

Sekarang, satu video dapat dilihat ribuan orang. Satu unggahan dapat disimpan, dibagikan, dikomentari, dan ditafsirkan berkali-kali.

 

Maka ketika pola yang sama terus muncul, publik tentu akan bertanya:

 

Apa sebenarnya yang sedang ditampilkan?

Apakah sekadar persahabatan?

Apakah hubungan kekeluargaan?

Ataukah ada konteks lain yang hanya diketahui oleh mereka yang menjalani?

Jawabannya tetap berada pada mereka.

 

Publik tidak boleh mengubah dugaan menjadi fakta.

 

Tetapi mereka juga tidak dapat menuntut publik untuk sama sekali tidak bertanya ketika sesuatu memang dipertontonkan secara terbuka.

 

Sampah dan Lalat: Sebuah Cermin Sosial

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal ungkapan tentang sampah dan lalat.

 

Tetapi dalam tulisan ini, sampah dan lalat hanyalah cermin metaforis tentang bagaimana perhatian publik bekerja.

 

Ketika sesuatu berada di ruang terbuka, akan selalu ada yang datang melihat.

 

Ketika sebuah peristiwa terus diproduksi dan dipublikasikan, perhatian masyarakat pun dapat semakin besar.

 

Masalahnya bukan siapa sampah dan siapa lalat.

 

Masalahnya adalah apakah masyarakat sedang melihat sesuatu yang memang memiliki kepentingan publik atau hanya sedang disuguhi potongan kehidupan pribadi seseorang.

 

Di sinilah kedewasaan publik diuji.

Jangan menjadikan metafora sebagai vonis.

Jangan pula menjadikan pertanyaan sebagai tuduhan.

 

Ketika Kehidupan Personal Bersinggungan dengan Lembaga

 

Pertanyaan menjadi lebih serius, ketika salah satu pihak memiliki posisi atau tanggung jawab dalam lembaga pendidikan.

 

Sebab lembaga pendidikan memiliki kepercayaan publik.

 

Ada peserta didik.

Ada orang tua.

Ada masyarakat.

Ada nama lembaga yang harus dijaga.

 

Karena itu, pertanyaan yang relevan bukanlah siapa dekat dengan siapa.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Dalam kapasitas apa aktivitas tersebut dilakukan?

Apakah pribadi?

Apakah lembaga?

Apakah menggunakan fasilitas pribadi?

Apakah menggunakan fasilitas lembaga?

Apakah terjadi di luar jam kerja?

Apakah membawa identitas lembaga?

Ataukah sama sekali tidak memiliki hubungan dengan pekerjaan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada membangun spekulasi mengenai kehidupan pribadi.

Jangan Menghakimi, Tetapi Jangan Membungkam Pertanyaan

Ada dua kesalahan yang sama-sama berbahaya.

 

Pertama, menghakimi seseorang hanya berdasarkan foto, video, atau ungkapan di media sosial.

 

Kedua, menggunakan alasan kehidupan pribadi untuk menutup semua pertanyaan yang sebenarnya berkaitan dengan kepentingan publik.

 

Keduanya tidak tepat.

Privasi harus dihormati.

Tetapi transparansi juga diperlukan ketika persoalan personal mulai bersinggungan dengan penggunaan fasilitas, kewenangan, tugas, nama, atau citra sebuah lembaga.

 

Di titik inilah jurnalistik harus berdiri.

Bukan menjadi hakim.

Bukan menjadi jaksa.

Bukan pula menjadi pembela.

Jurnalistik bertugas bertanya.

Memverifikasi.

Mengonfirmasi.

 

Kemudian memberikan ruang kepada pihak yang diberitakan untuk menjelaskan.

 

Biarkan Mereka Menjawab

Jika mereka mengatakan bahwa kedekatan itu adalah persaudaraan, itulah pernyataan mereka.

 

Jika mereka mengatakan bahwa hubungan tersebut membuat mereka bahagia, itu juga hak mereka untuk mengatakannya.

 

Publik tidak perlu memaksakan kesimpulan yang tidak didukung bukti.

 

Tetapi apabila pola tersebut terus hadir di ruang publik, masyarakat berhak bertanya mengenai konteks yang memang relevan dengan kepentingan publik.

 

Di sinilah perbedaan antara rasa ingin tahu dan kepentingan publik harus dijaga.

 

Jangan sampai kehidupan pribadi seseorang menjadi santapan.

 

Tetapi jangan pula setiap pertanyaan mengenai sesuatu yang sudah dipublikasikan dianggap sebagai serangan.

 

Pada Akhirnya, Bukan Tentang Sampah dan Lalat

 

Pada akhirnya, tulisan ini bukan tentang mencari siapa yang harus disebut sampah dan siapa yang harus disebut lalat.

 

Metafora itu cukup berhenti sebagai metafora.

Manusia tetap manusia.

Kehidupan pribadi tetap memiliki batas.

Dan setiap orang berhak atas martabatnya.

Namun ruang publik juga memiliki konsekuensi.

 

Ketika seseorang memilih membawa kedekatan personalnya ke hadapan publik, maka masyarakat akan melihat.

 

Masyarakat akan bertanya.

Dan ketika terdapat kaitan dengan sebuah lembaga pendidikan, pertanyaan mengenai batas antara kehidupan pribadi dan tanggung jawab kelembagaan menjadi semakin relevan.

Karena itu, jangan buru-buru membuat vonis.

Jangan pula buru-buru menutup pertanyaan.

Biarkan mereka menjelaskan.

Biarkan fakta diverifikasi.

Biarkan hak jawab diberikan.

 

Sebab dalam jurnalistik, yang paling keras bukanlah tuduhan.

Yang paling kuat justru adalah fakta.

 

Dan pada akhirnya, publik tidak membutuhkan drama tentang siapa sampah dan siapa lalat.

 

Publik membutuhkan kejelasan: apa yang sebenarnya terjadi, dalam kapasitas apa, dan apakah terdapat kepentingan publik di baliknya.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *