OKI Optimalkan Peran MPA Cegah Karhutla di 61 Desa Rawan

Palembang13 Views

Sumberpintar.com Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, mengoptimalkan peran Masyarakat Peduli Api (MPA) dalam mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

 

Pelibatan masyarakat dilakukan mulai dari pencegahan, patroli dan deteksi dini, pemadaman awal, hingga pelaporan kejadian kepada pihak berwenang.

 

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Pemkab OKI untuk mempercepat respons penanganan karhutla di tingkat desa. Berdasarkan Peta Sebaran Desa Rawan Karhutla Kabupaten OKI, terdapat 107 desa yang masuk kategori rawan.

 

Dari jumlah tersebut, 61 desa berada pada kategori kerawanan tinggi dan sangat tinggi. Desa-desa tersebut tersebar di lima kecamatan, yakni Tulung Selapan sebanyak 17 desa, Pangkalan Lampam 12 desa, Cengal 12 desa, Sungai Menang 11 desa, dan Pampangan 8 desa.

 

Kondisi tersebut membuat penguatan kapasitas masyarakat di tingkat tapak menjadi penting. MPA yang berada paling dekat dengan kawasan rawan diharapkan mampu menjadi bagian dari sistem deteksi dan respons awal ketika muncul indikasi kebakaran.

 

Di tingkat desa, MPA melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pencegahan karhutla, melaksanakan patroli di kawasan rawan, serta melakukan pemantauan untuk mendeteksi potensi munculnya titik api.

 

Apabila terjadi kebakaran, MPA dapat melakukan pemadaman awal sesuai kemampuan personel dan sarana yang tersedia. Setiap kejadian kemudian dilaporkan secara berjenjang kepada kepala desa dan pihak berwenang agar penanganan dapat ditingkatkan sesuai kondisi di lapangan.

 

Bupati OKI Muchendi Mahzareki mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi penting karena masyarakat berada paling dekat dengan wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran.

 

“Karhutla harus dicegah dan ditangani sejak dini. Penguatan peran masyarakat di wilayah rawan penting agar ketika ada titik api, bisa segera diketahui, dilaporkan, dan ditangani sebelum meluas,” ujar Muchendi saat meninjau lokasi karhutla di Desa Pulau Beruang, Kecamatan Tulung Selapan, Selasa (06/10/2026).

 

Didukung Sarana Pemadaman

 

Optimalisasi peran MPA juga didukung kesiapan sarana pemadaman darat. Sejumlah peralatan yang disiagakan antara lain penggaruk api (fire rake), pemukul api (fire beater), pompa jinjing, pompa punggung (jet shooter), selang pemadam, nozzle, wire connector, dan sepatu bot.

 

Ketersediaan peralatan menjadi penting mengingat karakteristik geografis OKI yang memiliki bentang wilayah luas. Sejumlah desa dan kawasan rawan karhutla juga berada cukup jauh dari pusat pemerintahan kabupaten.

 

Karena itu, kemampuan melakukan respons awal di tingkat tapak menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

 

“Sarana harus memadai agar respons di lapangan lebih cepat dan pemadaman dapat dilakukan sebelum kebakaran berkembang,” kata Muchendi.

 

Penanganan dengan Respon Berlapis

 

Pelibatan MPA di tingkat desa menjadi bagian dari pola penanganan karhutla yang melibatkan berbagai unsur.

 

Pemkab OKI juga menyiagakan personel gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, TNI, dan Polri untuk mendukung penanganan kebakaran sesuai kondisi di lapangan.

 

Selain itu, terdapat 176 Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) yang dibentuk perusahaan di sekitar area konsesi masing-masing untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan kebakaran.

 

Dengan pola tersebut, pengendalian karhutla dilakukan secara berlapis. Masyarakat melalui MPA menjadi bagian dari pencegahan, deteksi, pelaporan, dan respons awal di tingkat desa. Apabila kejadian membutuhkan penanganan lebih lanjut, respons dapat diperkuat oleh BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, perusahaan, serta unsur terkait lainnya sesuai skala kejadian.

 

Muchendi menegaskan pengendalian karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh unsur. Kecepatan mengetahui keberadaan api menjadi penting karena kebakaran dapat berkembang apabila tidak segera ditangani.

 

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat, perusahaan, TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, dan seluruh unsur di lapangan harus bergerak bersama. Semakin cepat api diketahui dan ditangani, semakin kecil risiko meluasnya kebakaran,” ujar Muchendi.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *