Sumberpintar.com Praktik pengadaan seragam sekolah di SMP Negeri 4 Bandar Lampung tahun ajaran 2026/2027 berubah menjadi sorotan tajam dan memicu kemarahan para orang tua murid.
Kepala SMPN 4 Bandar Lampung secara sepihak menunjuk Aries Konveksi yang berlokasi di Branti Raya, Kabupaten Lampung Selatan, untuk menggarap empat jenis seragam khusus siswa.
Namun, alih-alih menerima layanan profesional, para wali murid justru dihadapkan pada dugaan kebohongan, penguluran waktu pengerjaan, hingga indikasi penggelembungan harga bahan yang tidak sebanding dengan kualitas barang serta ukuran yang tidak porposional. Padahal para orang tua siswa membayar lunas seluruh paket seragam khusus tersebut.
Rincian biaya yang ditarik meliputi satu stel seragam batik khas sekolah senilai Rp225.000, satu stel seragam khas sekolah senilai Rp225.000, satu potong kemeja batik kota senilai Rp120.000, serta satu potong rompi khas sekolah senilai Rp125.000.
Untuk skala produksi massal dan kolektif, harga tersebut dinilai sangat mahal dan tidak masuk akal, terlebih bahan kain yang digunakan diduga berkualitas rendah serta jauh dari standar harga pasar.
Kekecewaan kian memuncak saat pengerjaan seragam mengulur waktu hingga memasuki bulan keempat tahun ajaran berjalan. Pihak Aries Konveksi melalui pesan singkat yang diterima orang tua murid diduga kuat berbohong dengan mengklaim bahwa seluruh pesanan telah rampung dikerjakan dan diserahkan ke pihak sekolah.
Fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya, untuk kemeja batik kota sama sekali belum ada yang dibagikan, sementara seragam batik khas dan seragam khas sekolah baru diterima sebagian siswa dengan kondisi ukuran yang berantakan.
Satu-satunya item yang paling banyak diterima siswa baru rompi khas sekolah, itu pun dengan bentuk dan ukuran yang memicu amarah orang tua. Padahal, pada tahap awal seluruh siswa telah diukur satu per satu secara langsung oleh tim penjahit konveksi.
“Ukurannya sama sekali tidak masuk akal, ini ukuran anak gajah bukan ukuran anak manusia! Padahal dulu anak-anak diukur satu per satu. Kinerja konveksinya sudah sangat keterlaluan, ini memicu emosi dan menciptakan konflik antara orang tua murid dengan pihak sekolah,” cetus salah seorang wali murid dengan nada penuh amarah, Rabu (06/10/2026).
Akibat kelalaian Aries Konveksi yang mengabaikan total data hasil pengukuran awal, para wali murid kini tersandera dalam posisi serba salah. Orang tua yang memilih mengembalikan seragam untuk diperbaiki dipaksa menunggu dalam jangka waktu yang tidak pasti tanpa kepastian penyelesaian.
Sementara itu, sebagian orang tua yang tak sanggup lagi menunggu terpaksa merogoh kocek pribadi untuk merombak seragam ke penjahit luar, padahal pembayaran awal sudah dilunasi secara penuh.
Aroma dugaan pengondisian proyek dan dugaan penunjukan bermasalah kian menyeruak berdasarkan penelusuran ke sejumlah pengusaha konveksi di wilayah Bandar Lampung.
Beberapa pemilik usaha konveksi lokal mengaku pernah menawarkan jasa pengadaan seragam ke Kepala SMPN 4 Bandar Lampung, tetapi ditolak mentah-mentah dengan dalih pekerjaan sudah diserahkan ke vendor besar di Branti.
“Kami beberapa kali menawarkan jasa ke kepala sekolah SMP 4 tetapi ditolak dengan alasan diserahkan ke konveksi besar di Branti,” tutur salah seorang pemilik konveksi di Bandar Lampung saat menceritakan penolakan tersebut.
Padahal, vendor-vendor lokal Bandar Lampung tersebut memiliki rekam jejak pengerjaan yang jauh lebih cepat dan akurat, menjadi sebuah pertanyaan kenapa mesti jauh-jauh yang mengerjakan antar Kabupaten, kenapa vendor lokal yang sanggup kerjakan diberikan yang jauh, sehingga menyusahkan orang tua.
Salah satu pelaku usaha konveksi di bilangan Kalibalok, Bandar Lampung, bahkan terbukti sanggup menyelesaikan pengerjaan lima jenis seragam untuk ribuan siswa SMA dan SMK se-Provinsi Lampung hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan tanpa ada satu pun komplain ukuran.
“Bukan konveksi besar tapi kami berupaya dan berusaha yang terbaik semaksimal mungkin. Kami gak mau membuat pelanggan kecewa yg berakibat kehilangan pelanggan,” tegas pemilik konveksi di kawasan Kalibalok tersebut.
Penolakan terhadap penyedia jasa lokal demi menunjuk konveksi luar daerah yang berkinerja buruk dan diduga mematok harga melambung kini memicu tanda tanya besar terkait transparansi serta motif di balik keputusan Kepala SMPN 4 Bandar Lampung.
Upaya konfirmasi telah dilayangkan kepada Nurhadi dari pihak Aries Konveksi melalui pesan singkat WhatsApp, namun yang bersangkutan mengatakn saat itu sedang sakit sehingga lalai dan akan bertanggung jawab, “ungkap Nurhadi
Setali tiga uang, Kepala SMP Negeri 4 Bandar Lampung, Trans Kasiono, S.Pd., M.Pd hingga kini belum dapat dimintai keterangan resmi terkait carut-marut pengadaan seragam yang merugikan para orang tua siswa tersebut.
Saat itu media meminta nomor kepada Kabid Dikdas Bandar Lampung untuk klarifikasi persoalan ini namun belum diberikan.
Media menunggu hak jawab persoalan tersebut kepada pihak terkait dan langkah yang akan diambil oleh Ombudsman RI Lamoung , DPRD Bandar Lampung dan Disdik akibat persoalan ini, sehingga diketahui publik







