Menhut dan BNPB Tinjau Karhutla di OKI, Pemerintah Perkuat Sinergi Hadapi September

Palembang13 Views

Sumberpintar.com Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto meninjau kesiapan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Senin (31/08/2026).

 

Peninjauan berlangsung di Kantor Manggala Agni Daops Sumatera XVII/OKI, Kayuagung, dan turut dihadiri Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru serta Bupati OKI Muchendi Mahzareki. Pertemuan tersebut membahas kondisi wilayah rawan karhutla, kesiapan personel dan sarana prasarana, hingga strategi mempercepat respons terhadap titik api di lapangan.

 

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan menurunnya jumlah titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah menjadi perkembangan positif. Namun, kondisi tersebut belum menjadi alasan untuk menurunkan kewaspadaan, khususnya di kawasan yang memiliki lahan gambut.

 

“Kunci pengendalian karhutla adalah pencegahan dan deteksi dini. Kita harus memastikan seluruh unsur bergerak cepat sebelum api membesar, terutama di kawasan gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi,” ujar Raja Juli.

 

Menurutnya, karakteristik lahan gambut membuat penanganan kebakaran membutuhkan perhatian khusus. Api dapat tetap membara di bawah permukaan meskipun tidak terlihat dari atas.

 

Karena itu, proses pendinginan dan pembasahan harus dilakukan secara intensif dan berulang untuk memastikan bara api benar-benar padam.

 

“Hotspot ini bukan berarti tidak ada asap. Karena sifatnya gambut, meski tidak ada api, masih ada asapnya,” katanya.

 

Sementara itu, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjelaskan bahwa titik panas yang terdeteksi satelit harus terlebih dahulu diverifikasi di lapangan sebelum dikategorikan sebagai kebakaran.

 

Verifikasi dilakukan dengan menggunakan berbagai sarana, termasuk helikopter dan drone. Di Sumatera Selatan, dari 37 hotspot berkekuatan tinggi yang terpantau, hasil verifikasi menunjukkan sebanyak 11 titik merupakan fire spot.

 

Pemerintah menargetkan seluruh titik tersebut segera dikendalikan agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

 

Selain operasi pemadaman, pemerintah juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan memanfaatkan potensi hujan berdasarkan informasi BMKG untuk periode 1–6 September 2026.

 

“Di bulan September ini kita masih akan berjibaku untuk memadamkan,” ujar Suharyanto.

 

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan bahwa pengendalian karhutla membutuhkan sinergi lintas wilayah dan sektor. Menurutnya, penanganan tidak dapat dilakukan secara parsial karena kebakaran hutan dan lahan memiliki dampak yang luas.

 

“Sumatera Selatan tidak bisa menangani karhutla sendiri-sendiri. Kita harus bergerak dalam satu komando dan memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, TNI, Polri, Manggala Agni dan masyarakat,” katanya.

 

Bupati OKI Muchendi Mahzareki mengatakan karakteristik wilayah OKI yang sangat luas, dengan sebagian kawasan berupa rawa dan lahan gambut, membutuhkan dukungan seluruh pihak.

 

“OKI memiliki wilayah yang sangat luas dan karakter lahan yang sebagian besar berupa rawa dan gambut. Karena itu, kami membutuhkan penguatan kolaborasi, personel, sarana prasarana dan deteksi dini,” ujar Muchendi.

 

Muchendi juga menekankan pentingnya keterlibatan dunia usaha dalam memperkuat kesiapsiagaan pengendalian karhutla. Sejumlah perusahaan, kata dia, telah membentuk dan menyiagakan personel serta regu inti untuk mendukung penanganan di lapangan.

 

“Perusahaan juga kami dorong untuk mengambil peran. Saat ini telah dibentuk 176 personel KTPA dan 1.470 regu inti perusahaan yang siap mendukung upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

 

Ia menambahkan, pengendalian karhutla tidak semata-mata mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar. Pencegahan, deteksi dini, kecepatan penyampaian informasi serta mobilisasi personel menjadi faktor penting dalam mencegah kebakaran meluas.

 

Pemkab OKI memastikan koordinasi bersama TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah desa, masyarakat dan dunia usaha terus diperkuat. Langkah tersebut diarahkan untuk mempercepat respons terhadap setiap titik api sekaligus mencegah karhutla berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

 

 

( Mas Tris)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *