Pengamat: Kepemimpinan Ratu Dewa Cerminkan Democratic Mind, Utamakan Partisipasi Publik

Palembang20 Views

Sumberpintar.com Pengamat politik Ahmad Haekal Haffafah menilai kepemimpinan Wali Kota Palembang Ratu Dewa lebih mencerminkan konsep democratic mind, yakni pola kepemimpinan yang mengedepankan partisipasi masyarakat, keterbukaan terhadap kritik, serta tata kelola pemerintahan yang inklusif. Menurutnya, pendekatan tersebut berbeda dengan political mind yang lebih berorientasi pada perolehan dan pemeliharaan dukungan politik.

 

Haekal menjelaskan, dalam perspektif ilmu politik, political mind cenderung memandang kekuasaan sebagai instrumen untuk memperoleh dan mempertahankan legitimasi politik. Sebaliknya, democratic mind menempatkan masyarakat sebagai mitra dalam proses pemerintahan melalui dialog, transparansi, dan evaluasi kebijakan secara berkelanjutan, “jelasnya.

 

“Political mind berorientasi pada bagaimana memperoleh dan mempertahankan dukungan politik. Sementara democratic mind membangun ruang dialog, menerima kritik, bersikap low profile, inklusif, dan menjadikan masyarakat sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan. Pendekatan seperti itulah yang kami lihat dalam kepemimpinan Ratu Dewa,” ujar Haekal Selasa (28/07/2026).

 

Menurutnya, pendekatan tersebut tidak hanya tercermin dari gaya kepemimpinan, tetapi juga dapat diukur melalui capaian pembangunan. Salah satu indikatornya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Palembang yang mencapai 83,27 atau berada pada kategori sangat tinggi, “tuturnya.

 

Ia menilai, capaian itu menunjukkan bahwa pembangunan tidak semata-mata berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui pendidikan, kesehatan, dan peningkatan taraf hidup.

 

“IPM 83,27 menjadi indikator bahwa masyarakat ditempatkan sebagai pusat pembangunan. Pemerintah tidak hanya membangun fisik kota, tetapi juga membangun manusianya,” katanya.

 

Di sektor ekonomi, Haekal menyoroti pertumbuhan ekonomi Kota Palembang pada Triwulan I Tahun 2026 yang mencapai 5,91 persen, meningkat dibandingkan periode sebelumnya sebesar 5,14 persen. Menurutnya, pertumbuhan tersebut mencerminkan bergeraknya sektor perdagangan, jasa, investasi, dan aktivitas pelaku UMKM.

 

“Yang terpenting bukan hanya besarnya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi bagaimana manfaat pertumbuhan itu dapat dirasakan masyarakat secara luas sehingga menciptakan kesejahteraan yang lebih merata,” ujarnya.

 

Selain indikator pembangunan, Haekal juga menilai gaya komunikasi politik Ratu Dewa menjadi salah satu kekuatan kepemimpinannya. Kehadiran langsung di tengah masyarakat, keterbukaan menerima masukan, dan kesediaan mendengar berbagai aspirasi dinilai mampu membangun kepercayaan publik.

 

“Seorang pemimpin harus hadir di tengah masyarakat, memahami persoalan secara langsung, dan mendengar aspirasi warganya. Kepemimpinan yang sederhana, terbuka, dan responsif menjadi fondasi penting dalam membangun pemerintahan yang demokratis,” tegasnya.

 

Haekal menambahkan, sejumlah program strategis seperti pengembangan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), penataan kawasan Benteng Kuto Besak, peningkatan kualitas ruang publik, hingga pembahasan aspirasi masyarakat mengenai pelaksanaan Car Free Day (CFD) dan Car Free Night (CFN), menunjukkan adanya ruang partisipasi publik dalam proses penyusunan maupun penyempurnaan kebijakan.

 

Menurutnya, pemerintah yang membuka ruang kritik dan masukan akan lebih mudah memperoleh kepercayaan masyarakat sehingga setiap kebijakan memiliki legitimasi yang kuat.

 

“Legitimasi seorang pemimpin tidak hanya dibangun melalui kemenangan politik, tetapi melalui kepercayaan publik, meningkatnya kualitas sumber daya manusia, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, tata kelola pemerintahan yang baik, serta tumbuhnya kehidupan demokrasi dalam praktik sehari-hari. Demokrasi tidak berhenti pada pemilu, tetapi harus hadir dalam setiap proses pemerintahan,” tutup Haekal.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *