Dr. Hasyimkan ; Pelestarian dengan Pengembangan Wisata Budaya Gamolan Tidak Hanya Menjaga Warisan Budaya Lampung dapat juga Mendukung Ekonomi Kreatif dan Kesejahteraan

Sumberpintar.com IBI Darmajaya melalui Prodi Pariwisata melaksanakan Seminar Nasional Ethno Tourism Fest 2026 di Aula Darmajaya Lantai 3 Gedung Rektorat Alfian Husin, Selasa (07/07/2026.

 

Seminar nasional ini dihadiri mahasiswa, guru pendamping SMA, mahasiswa IIB Darmajaya Prodi Pariwisata angkatan 2023,2024dan 2025 dan Kaprodi Pariwisata Ibu Rini, S.Kom., M.Ti dengan narasumber Dr.Hasyimkan, S.Sn., M.A dari dosen seni Musik FKIP Unila.

 

Dr.Hasyimkan yang merupakan praktisi yang sekaligus peneliti tentang asa-usul, mistis, budaya wisata alat musik Gamolan yang dapat menghidupkan perekonomian nagara Malaya Kerajaan Sriwijaya melalui nilai karakteristik musik Lokananta.

 

Provinsi Lampung memiliki kekayaan budaya yang tercermin dalam berbagai bentuk kesenian, salah satunya musik tradisional.Musik tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi identitas budaya yang mengandung nilai sejarah, filosofi, dan adat istiadat masyarakat Lampung.

 

Salah satu alat musik tradisional yang menjadi simbol budaya Lampung adalah Gamolan. Gamolan sudah dibuat lagu oleh Hasyimkan dalam balutan orchestra

(Unila Orchestra) (https://www.youtube.com/watch?v=WB3n0WFHgh0)

Selain memiliki nilai budaya, alat musik tradisional Gamolan juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Keberadaannya menggerakkan berbagai mata rantai ekonomi, mulai dari pemilik dan penebang bambu, jasa transportasi, pengrajin, penjual, pelatih Gamolan, hingga penyedia perlengkapan dan tata panggung untuk pertunjukan.

 

Dengan demikian, pelestarian Gamolan tidak hanya menjaga warisan budaya Lampung, tetapi juga mendukung ekonomi kreatif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

Syair Gamolan dalam kisah Radin Jambat:

Bijing Pak Selinbangan

Pusiban pitu tanjak

Ditunggu tetabuhan

Gamolan Suai Randak

Musik tradisional Lampung merupakan bagian dari khazanah musik Melayu yang berkembang melalui perjalanan sejarah dan budaya masyarakatnya.

Salah satu warisan penting adalah “Tala Siburung Jauh”, yaitu seperangkat gong yang dalam tradisi Lampung termasuk alat musik Lokananta yang mempunya motif //v…/v…/v.vv/v…//, musik Lokananta masih berupa konsep belum mempunyai bentuk dan merupakan musik awal diseluruh dunia.

Syair musik Lokananta pada kisah Radin Jambat:

Helau mak sundi lagi

Sangun diturut tala

Bukan tala ni nayah

Tala si burung jauh

Anjak bukit barisan

kulintang ni gemeccuh

Pacak bugamol sayan

Sai pedom minjak lagi.

Syair dari Lokananta dibuatkan Lagu oleh Hasyimkan yang syairnya gabungan berbahasa Lampung dan Indonesia, agar bisa dimengerti secara nasional.

Menurut tradisi lisan, seperangkat gong “Tala Siburung Jauh” dibawa oleh masyarakat Lampung (Melayu) dari Pagar Gunung, Lahat (Sumatera Selatan) menuju Gunung Pesagipada masa Kerajaan Skala Brak kemudian Negara Tulang Bawang pada sub etnis Lampung Way Kanan.

 

Kini, alat musik tersebut disimpan di Kampung/Kelurahan Kedamaian yang termasuk pada Marga Balau Kota Bandar Lampung.

Perkembangan musik tradisional Lampung kemudian diperkaya oleh tradisi yang melahirkan berbagai tabuhan, seperti Tabuh Rajo Menggalo, serta musik bernuansa Islam, seperti Hadrah, Rudat, Zikir Lama, yang hingga kini menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Lampung.

Pada cerita rakyat (Radin Jambat, 1995,78,) dikenal ungkapan “Pacak Bugamol Sayan” yang berarti dapat berbunyi sendiri.

Ungkapan tersebut menggambarkan kesakralan Gamolan sebagai alat musik yang diyakini memiliki hubungan dengan musik Lokananta, yaitu musik surgawi dalam budaya Melayu di Sumatera Selatan yang dibawa hingga Lampung pada masa lampau. Nilai filosofis tersebut menunjukkan bahwa Gamolan bukan sekadar alat musik, melainkan warisan budaya yang memiliki makna spiritual dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Lampung.

Seiring perkembangan zaman, keberadaan musik tradisional Lampung menghadapi tantangan, akibat pengaruh budaya modern dan menurunnya minat generasi muda. Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian yang mampu mengenalkan kembali Gamolan kepada masyarakat luas.

Salah satu upaya tersebut adalah melalui penyelenggaraan Festival Ethno Tourism, yang memadukan seni budaya dengan kegiatan pariwisata.

 

Festival ini menjadi media untuk memperkenalkan musik tradisional Lampung, memperkuat identitas budaya daerah, serta meningkatkan apresiasi masyarakat dan wisatawan terhadap warisan budaya Lampung.

 

Berdasarkan hal tersebut, penelitian berjudul “Menjelajahi Identitas Budaya Musik Tradisional Melalui Festival Ethno Tourism” penting dilakukan untuk mengkaji peran festival budaya dalam melestarikan Gamolan sebagai identitas budaya Lampung sekaligus mendukung pengembangan pariwisata budaya yang berkelanjutan.

 

Perkembangan zaman menuntut Provinsi Lampung untuk terus mengembangkan potensi pariwisata secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan motto Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, yaitu: “Harmoni Nusantara untuk Pariwisata yang Berkualitas dan Berkelanjutan”, yang menekankan pemanfaatan kekayaan alam, sumber daya manusia, dan budaya sebagai daya tarik wisata. Di antara ketiga potensi tersebut, budaya memiliki peran penting sebagai identitas daerah sekaligus aset pariwisata. Oleh karena itu,diperlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku budaya, dunia usaha,media masa, dan masyarakat untuk melestarikan serta mengembangkan budaya Lampung sebagai bagian dari pariwisata yang berkelanjutan.

 

Untuk menunjang pencapaian suatu tujuan perlunya teori yang relevan,teori tersebut adalah: Jika suatu Negara ingin berkembang dengan cepat, makaciptakan keramaian, (Alan P. Merriam, The Antropologi of Music, 1964).

 

Teori Pelestarian budaya dalam mendukung pariwisata yaitu: Hari ini adalah masa lalu dan masa lalu adalah masa depan (Hasyimkan. 2015).

Teori pemajuan mengenai seni dan budaya adalah: Pelestarian dan pengembangan seni dan budaya yang paling efektif saat ini adalah melalui sekolah-sekolah. (Prof. Dr. Victor Ganap, M.Ed.).

 

Teori lain yang relevan dalam mengembangkan pariwisata adalah menerapkan strategi kebudayaan yaitu, mitos, ontology dan fungsional. (C.A van Peursen, Strategi Kebudayaan, 1988).

 

Mitos adalah bersifat abstrack meliputi alam kebudayaan primitive ternyata masih tetap menarik sekali bagi kita, mitos juga sebuah cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang.

 

Contoh mitos menggunakan penutup kepala di dua pohon beringin di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta bagi siapa yang dapat jalan lurus dikabulkan permintaannya, disekitar Kota Tua Teluk Betung Bandar Lampung diyakini juga mempunyai mitologi-mitologi yang baik tidak bertentangan dengan syariat agama, namun saatini belum diadakan penelitian oleh para ahli.

 

Ontologi adalah mengenai segala sesuatu yang ada pada umumnya dan lebih bersifat pembebasan dari ilmu yang ghaib, misalnya ilmu aplikasi petunjuk jalan menuju Kawasan wisata Lampung, dll

Fungsional adalah penggabungan dari kedua hal tersebut, sehingga dapat menghidupi pendukungnya. Artinya dengan mitologi dan ontologi dapat mengakibatkan masyarakat lebih sejahtera.

Sumber daya budaya merupakan salah satu pendukung utama pariwisata di Provinsi Lampung. Oleh karena itu, berbagai warisan budaya yang mengandung nilai karakter dan kearifan lokal perlu diteliti, didokumentasikan, dan dilestarikan melalui kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.

 

Pengembangan budaya tersebut tidak hanya mendukung usulan sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai produk ekonomi kreatif dan suvenir khas yang memperkuat daya saing pariwisata Lampung.

Daftar Pustaka

Ganap, V. (tanpa tahun). Pelestarian dan Pengembangan Seni dan Budaya

Melalui Pendidikan. Yogyakarta.

Hasyimkan. (1995). Radin Jambat. Bandar Lampung.

Hasyimkan. (2015). Hari Ini adalah Masa Lalu dan Masa Lalu adalah Masa Depan. Bandar Lampung.

Merriam, A. P. (1964). The Anthropology of Music. Evanston, IL: Northwestern

University Press.Peursen, C. A. van. (1988). Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Unila Orchestra. (tanpa tahun). Komposisi Orkestra Gamolan [Video]. YouTube.

Hasyimkan. (tanpa tahun). Lokananta (Syair Radin Jambat) [Video]. YouTube.

Contoh Produk gamolan yang bisa dikembangkan di Lampung:tentunya masih banyak lagi yang lainnya, “tutup Hasyimkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *